Adopsi Energi Terbarukan Naik, Penurunan Emisi Belum Optimal

Jan 19, 2026

Transformasi menuju energi bersih sudah menjadi agenda penting dunia, termasuk dalam sektor industri yang selama ini menjadi salah satu kontributor terbesar emisi gas rumah kaca. Di tengah upaya global untuk mencapai target penurunan emisi, dorongan pengembangan dan adopsi Energi Baru Terbarukan (EBT) terus meningkat. Industri mulai melirik dan menerapkan sumber energi seperti tenaga surya, angin, dan biomassa dalam operasionalnya.

Fenomena ini menunjukkan ironi. Meski penggunaan energi terbarukan di industri meningkat, total emisi belum turun secara optimal. Hal ini menimbulkan pertanyaan penting: apa yang menjadi penyebabnya? Bagaimana tantangan operasional dan teknologi menghambat dampak positif EBT terhadap emisi industri? Artikel ini membahas kondisi terkini adopsi EBT dan alasan emisi industri belum turun signifikan. Selain itu, mengulas kendala integrasi sistem energi dan teknologi penyimpanan.

Adopsi Energi Baru Terbarukan (EBT) di Industri Meningkat

Dalam beberapa tahun terakhir, industri besar dan menengah menunjukkan tren positif dalam penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT). Hal ini didorong oleh berbagai faktor, seperti meningkatnya kesadaran akan perubahan iklim, insentif kebijakan pemerintah, serta tekanan pasar terhadap perusahaan yang semakin peduli pada aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).

Beberapa bentuk adopsi EBT yang terlihat mencakup:

  • Panel surya atap pabrik yang menyediakan sebagian kebutuhan listrik.
  • Pembangkit listrik tenaga angin (wind farm) untuk mendukung operasi di wilayah tertentu.
  • Biomassa sebagai alternatif sumber energi untuk proses pemanas atau fasilitas produksi.

Selain itu, teknologi energi terbarukan kian terjangkau dari sisi biaya investasi dan operasi, sehingga sektor industri mulai memasukkannya ke dalam strategi energi jangka panjang. Tidak hanya untuk menekan biaya energi, penggunaan EBT juga diharapkan mampu memperbaiki reputasi lingkungan perusahaan.

Meski Penggunaan EBT Bertambah, Emisi Industri Belum Turun Optimal

Walaupun adopsi energi terbarukan semakin meluas, data terbaru menunjukkan bahwa penurunan emisi di sektor industri belum optimal. Banyak perusahaan yang sudah mengintegrasikan EBT masih melihat bahwa total emisi gas rumah kaca tidak turun secara signifikan sebagaimana target awal.

Ada beberapa alasan di balik kondisi ini:

  1. Skala penggunaan EBT belum mencukupi: Energi terbarukan sering kali hanya menutupi sebagian kecil dari total kebutuhan energi perusahaan, sementara sebagian besar masih bergantung pada bahan bakar fosil.
  2. Ketergantungan pada energi konvensional tetap tinggi: Banyak proses industri yang sulit sepenuhnya dialihkan ke EBT karena adanya kebutuhan energi intensif yang hanya dapat dipenuhi oleh sumber energi fosil.
  3. Pertumbuhan operasi industri: Dalam beberapa kasus, produksi yang meningkat menyebabkan konsumsi energi keseluruhan naik, sehingga peningkatan EBT tidak cukup untuk menurunkan total emisi.

Dengan kata lain, meskipun proporsi EBT dalam bauran energi meningkat, kontribusinya terhadap penurunan emisi absolut belum terasa secara signifikan. Situasi ini mencerminkan tantangan transisi energi yang kompleks, terutama bagi sektor industri yang telah lama bergantung pada energi berbasis fosil.

Kendala Operasional dan Integrasi Sistem Energi, serta Peran Teknologi dan Penyimpanan Energi

Salah satu tantangan utama dalam mewujudkan penurunan emisi yang lebih substansial adalah integrasi operasional energi terbarukan ke dalam sistem produksi industri. Integrasi ini sering kali dihadapkan pada beberapa kendala, antara lain:

1. Variabilitas Sumber Energi Terbarukan

Energi seperti surya dan angin sifatnya intermiten dan bergantung pada kondisi cuaca. Hal ini menimbulkan tantangan dalam menjaga stabilitas pasokan energi untuk proses industri yang membutuhkan kontinuitas operasi.

2. Sistem Penyimpanan Energi yang Belum Optimal

Untuk mengatasi variabilitas tersebut, diperlukan sistem penyimpanan energi (energy storage) seperti baterai skala besar yang mampu menyimpan surplus energi ketika produksi tinggi dan melepasnya saat produksi rendah. Namun, teknologi penyimpanan energi masih relatif mahal dan belum diadopsi luas secara besar-besaran di sektor industri.

3. Integrasi dengan Infrastruktur Eksisting

Banyak perusahaan harus berinvestasi besar untuk memodifikasi infrastruktur lama agar kompatibel dengan sumber energi terbarukan. Hal ini tidak hanya memerlukan biaya, tetapi juga waktu dan keahlian teknis yang spesifik.

4. Tantangan Manajemen Energi

Menyusun strategi manajemen energi yang efisien berdasarkan data real-time menjadi semakin penting. Peran teknologi digital seperti sistem manajemen energi berbasis IoT dan AI menjadi kunci dalam memaksimalkan penggunaan EBT, mengatur alokasi energi, serta meminimalkan pemborosan.

5. Peran Teknologi dalam Transisi Energi

Teknologi tidak hanya berperan dalam penyimpanan energi, tetapi juga dalam optimalisasi produksi energi terbarukan, monitoring emisi industri secara real-time, serta prediksi konsumsi energi. Kombinasi teknologi tinggi dan strategi operasional yang adaptif merupakan prasyarat penting untuk mencapai penurunan emisi yang lebih signifikan.

sunset skyline with wind turbines

[https://www.pexels.com/photo/sunset-skyline-with-wind-turbines-in-bratislava-35065288/]

Penutup

Pertumbuhan adopsi Energi Baru Terbarukan di sektor industri adalah tanda kemajuan dalam upaya transisi energi global. Peningkatan penggunaan sumber energi bersih seperti tenaga surya, angin, dan biomassa menunjukkan bahwa perusahaan mulai bergerak menuju praktik bisnis yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Namun, kenyataan menunjukkan bahwa penurunan emisi absolut di sektor industri belum mencapai hasil yang diharapkan. Tantangan operasional, integrasi sistem energi, serta keterbatasan teknologi penyimpanan masih menjadi hambatan dalam memaksimalkan manfaat lingkungan dari energi terbarukan.

Ke depan, keberhasilan transformasi energi tidak hanya ditentukan oleh peningkatan kapasitas EBT semata, tetapi juga oleh kemampuan sektor industri dalam mengintegrasikan, mengelola, dan mengoptimalkan sistem energi yang kompleks. Dukungan teknologi canggih, kebijakan yang mendukung, serta kolaborasi lintas sektor akan menjadi kunci dalam mewujudkan industri yang rendah emisi dan berkelanjutan.

Dengan langkah yang tepat, adopsi energi terbarukan dapat menjadi motor utama dalam perjuangan menekan emisi dan menghadapi tantangan perubahan iklim—menjadikan pertumbuhan industri bersahabat dengan bumi tanpa mengorbankan produktivitas dan daya saing.

Baca Artikel lainnya: Kenali Sumber Energi Bersih, Strategi Pemerintah Tekan Emisi